Ni Made Sri Andani posted: " Seorang ahabat karib saya di Bandung mengontak, apakah saya mau dikirimin bibit Labu Siam. Seketika saya bilang MAU !!! Sangat senang hati saya. Karena sudah lama saya pengen menanam Labu Siam dan nyari bibitnya nggak mudah. Kebanyakan Labu Siam "
Seorang ahabat karib saya di Bandung mengontak, apakah saya mau dikirimin bibit Labu Siam. Seketika saya bilang MAU !!! Sangat senang hati saya.
Karena sudah lama saya pengen menanam Labu Siam dan nyari bibitnya nggak mudah. Kebanyakan Labu Siam yang dijual di tukang sayur masih muda-muda, sehingga belum bisa dijadikan bibit.
Tak lama kemudian, sampailah bibit itu. Ada tiga buah Labu Siam yang sudah tua. Satu sudah bertunas, tapi sayang saat saya buka, tunas itu patah. Sayang banget. Tapi tidak apalah. Masih ada dua buah lagi yang tunasnya nanti akan tumbuh.
Karena hari sudah malam, sementara saya letakkan dulu di dapur, di bawah rak piring. Besok pagi akan saya tanam. Esok paginya, saya kerja di kantor seperti biasa dan benar-benar lupa dengan bibit Labu Siam itu.
Pulang kantor agak malam. Si Mbak sudah masak buat kami. Ada ayam goreng, tahu goreng, sambal terasi sayur kangkung dan sayur Labu Siam. Enak kelihatannya. Saya pun makan dengan lahap.
Tapi tiba-tiba perasaan saya tidak enak. Ada yang tidak beres ini. Mengapa kok di atas meja makan dihidangkan Sayur Tumis Labu Siam?
Jangan-jangan...
Cepat-cepat saya pergi ke dapur dan memeriksa bibit Labu Siam saya. Astaga ternyata tinggal 1 buah. Kemana satunya lagi? Waduuuh... jangan-jangan yang barusan saya makan itu.
Benar saja. Si Mbak yang kerja di rumah saya mengakui bahwa ia telah memasak Labu Siam yang di dapur itu, karena tidak tahu itu buat bibit.
"Iya Bu. Saya masak kemarin. Saya lihat ada Labu Siam. Saya pikir ibu lagi pengen makan Sayur Labu Siam". Katanya dengan wajah polos.
Aduuuh...hancur hati saya.. Mau marah sama siapa? Memang bukan salahnya si Mbak. Saya tahu sebenarnya ia sangat baik dan perhatian pada saya. Selalu berusaha membuat hati saya senang.
Ini salah saya sendiri. Saya tidak mengkomunikasikannya dengan Mbak. Jadi ia tidak tahu bahwa Labu Siam itu adalah bibit. Dan jauh-jauh dikirim dari Bandung. Mestinya saya memberi tahu Su Mbak sebelum berangkat ke kantor.
Selain itu, setiap orang yang melihat Labu Siam di Dapur, tentu berpikir bahwa Labu itu untuk dimasak. Jika untuk bibit, mestinya saya letakkan terpisah. Entah di teras, di halaman, atau entah di mana, tetapi jangan di dapur.
Saya pandangi satu-satunya bibit Labu Siam yang tersisa itu. Hanya ini yang bisa saya tanam sekarang.
Mengetahui kesedihan saya, akhirnya Si Mbak berkata
"Maaf ya Bu. Saya tidak tahu sebelumnya, kalau itu buat bibit. Tapi saya berjanji, akan saya carikan penggantinya. Saya tahu di mana bisa membeli Labu Siam yang tua buat dijadikan bibit".
Besoknya ia datang dengan dua buah Labu Siam yang cukup tua, untuk menggantikan 2 buah labu siam yang tunasnya patah dan yang terlanjur dimasak.Ketiganya saya tanam di pot dan saya letakkan di halaman. Semoga tumbuh dengan baik.
Tiba-tiba sahabat saya nge-chat. "Gimana De ? Bibit Labu Siamnya dudah diterima belum?".
Aduuh...Saya panik. Mesti bilang apa? Dari tiga buah bibit yang dikirim cuma satu yang selamat dan bisa ditanam. Kok say takut mau bilang begitu ya? Ia pasti sedih karena saya tidak memperlakukan pemberiannya dengan baik.
Akhirnya saya informasikan bahwa salah satu bibit yg tunasnya sudah tumbuh ternyata patah. Tetapi saya tidak bercerita tentang satu bibit lagi yang dimasak itu. Untuk menjaga perasaannya. Agar ia tidak kecewa. Takutnya dia marah. Takut dia sedih. Jauh-jauh ngirim dari Bandung kok bibitnya malah tidak diperlakukan dengan baik, sampai dimasak kok nggak peduli. Jadi saya tidak bercetita soal itu.
Untuk tunas yang patah, ia menghibur dengan mengatakan, tidak apa. Memang sejak awal ragu-ragu mau ngirim yang sudah ada tunasnya, makanya ia kirim juga dua bibit yang belum tumbuh tunasnya sebagai cadangan.
Setelah itu saya jadi kepikiran terus akan bibit Labu Siam itu, sampai sulit tidur.
Rasanya saya bersalah kepada sahabat saya itu. Memang saya tidak berbohong kepadanya. Tetapi saya tidak mengatakan keseluruhan ceritanya. Sebagian sengaja saya sembunyikan. Sebenarnya itu sama dengan tidak jujur. Tidak bohong, tetapi tidak jujur!!!
Akhirnya tadi siang, saya memberanikan diri untuk mengaku. Dengan mengambil resiko terburuk, mungkin dia marah. Dia sedih. Dan pastinya kecewa. Daripada saya tidak bisa tidur. Tanpa saya duga, sahabat saya itu ternyata tidak marah. Ia mentertawakan saya dan menawarkan umtuk memgirim bibit lagi jika saya mau. Ia juga bercerita, jika pernah punya pengalaman serupa dengan perasaan yang sama dengan saya, saat diberi bibit bunga Gemitir oleh temannya. Tapi temannya juga memahami situasinya dan malah menawarkan untuk memberikan bibit baru. Ooh ?!
No comments:
Post a Comment