Belakangan ini bersliweran di Sosial Media, lagu Kembang Gedang yang dinyanyikan oleh Pak Presiden Jokowi. Saya tidak tahu apakah lagu itu memang asli dinyanyikan oleh Pak Jokowi atau hasil kreasi orang kreatif mengolah vokal Pak Jokowi dengan menggunakan aplikasi ataukah teknologi Artificial Inteligent. Entahlah.
Apapun itu, suara Pak Jokowi terdengar asli banget. Dan yang jelas lagu itu sangat menarik dan mudah didendangkan oleh banyak orang. Termasuk oleh saya, salah satu yang juga tanpa sadar ikut mendendangkan lagu Kembang Gedang ini.
"Kembang gedang digongso neng wajan
Yen ra gosong iso kanggo sarapan
Melu bungah nyawang suksese liyan
Mugo-mugo kabeh do keduman…"
Walaupun saya lahir dan dibesarkan di Bali, tapi entah kenapa saya merasa langsung paham 100 % isi kalimat-kalimat di dalam lagu yang berbahasa Jawa itu. Mungkin karena banyak sekali persamaan kosa kata Bahasa Bali dengan Jawa. Walaupun kadang kebolak-balik soal halus kasarnya. Tapi tak masalahlah. Yang penting tahu artinya saja.
Saya terbayang seonggok Kembang Pepaya yang sedang dimasak di penggorengan dan kemudian dijadikan sarapan. Hmmm…pahit-pahit sedap gimana gitu 


Sayapun berdendang dan bergumam kembali dengan lagu Kembang Gedang ini. Sehari, dua hari, seminggu, sebulan sambil selalu membayangkan Sayur Kembang Pepaya nan uenaak tenan itu. Sering tanpa sadar saya menggumamkan lagu itu.
Suatu kali, sambil tetap membayangkan enaknya Sayur Kembang Pepaya itu, saya kepikiran untuk memastikan satu per satu kebenaran arti kata-kata dalam lagu Kembang Gedang itu. Sayapun ngobrol dengan Pak Supir yang pagi itu mengantarkan saya berangkat ke bandara. Beliau orang Jawa. Pasti lebih paham arti lagu ini.
Belum sempat saya menanyakan artinya, tiba-tiba saya sadar, bahwa kalimat pertama di lagu itu rupanya saya salah menterjemahkan.
Astaga!! Saya baru ingat jika "Gedang" dalam Bahasa Jawa berbeda artinya dengan Gedang dalam Bahasa Bali.
Gedang dalam Bahasa Jawa artinya Pisang. Kembang Gedang itu adalah Jantung Pisang. Jadi yang dimaksud di dalam lagu itu adalah Sayuran yang terbuat dari Jantung Pisang.
Sedangkan di dalam Bahasa Bali, Gedang itu artinya pepaya.jadi Kembang Gedang adalah Kembang Pepaya.
Waduuuh, rupanya selama sebulan dua bulan ini otak saya menggunakan Bahasa Jawa dengan template Bahasa Bali 

.
Karrna Gedang dalam Bahasa Bali berarti Pepaya, itu sebabnya ketika mendengar kata Kembang Gedang otak saya mengira itu Bunga Pepaya.
Jadi beda ya? Yang dimaksud Sayur Jantung Pisang, tetapi yang disangka Sayur Kembang Pepaya. Wk wk wk…
Beda jauh. Walau sama-sama enak sih 


Sayapun menceritakan kesalahan pikiran saya itu ke Pak Supir yang ikut tertawa mendengar cerita saya.
Hingga siang dan mendarat di Denpasar, saya tetap merasa geli akan ke-sok tahu-an saya.
Ketika kita merasa tahu akan satu hal, seringkali kita mengeneralisir menyangka kita tahu semuanya. Padahal tanpa kita sadari, ada banyak hal yang kita tidak ketahui, ataupun kita kurang teliti yang bisa saja membuat kita salah, akibat kesok-tahuan kita.
No comments:
Post a Comment