latestpets

Friday, 27 September 2024

Fenomena Wayang pada Sastra Indonesia.

Para Pembicara Yanusa Nugroho & Sunu Wasono serta Moderator Yon Bayu Wahyono Dari Forum ke 10 Diskusi Meja Panjang - Komunitas Dapur Sastra Jakarta hari ini. Hari ini ada tema menarik yang dibahas di forum Diskusi Meja Panjang di PDS HB Jassin…
Read on blog or Reader
Site logo image nimadesriandani Read on blog or Reader

Fenomena Wayang pada Sastra Indonesia.

By Ni Made Sri Andani on September 27, 2024

Para Pembicara Yanusa Nugroho & Sunu Wasono serta Moderator Yon Bayu Wahyono

Dari Forum ke 10 Diskusi Meja Panjang - Komunitas Dapur Sastra Jakarta hari ini.

Hari ini ada tema menarik yang dibahas di forum Diskusi Meja Panjang di PDS HB Jassin Lt 5 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pembicaranya Pak Yanusa Nugroho & Pak Sunu Wasono, pembicara yang kelihatannya memang berkutat banyak dengan Wayang. Moderatornya adalah Mas Yon Bayu Wahyono. Wah… bakalan menarik ini pastinya. Sayapun memutuskan untuk hadir.

Benar saja. Obrolan dipantik oleh Pak Yanusa Nugroho yang mengajak audience untuk memfokuskan pada "cerita" wayang jika kita berbicara wayang pada sastra, karena pada dasarnya sastra itu ya berupa text.

Lalu beliau memaparkan beberapa contoh karya sastra yang bersumber pada Wayang serta penulisnya, diantaranya Nyoman Pendit dengan karya fenomenalnya "Mahabarata", Herman Pratikto dengan karyanya yang berjudul "Hamba Sebut Paduka Rama Dewa" , Seno Gumira Ajidarma dengan novelnya "Kitab Omong Kosong" dan "Wisanggeni - Sang Buronan", Sunu Wasono dengan buku "Jaladara", dan masih banyak sekali yang lainnya, termasuk Pak Yanusa Nugroho sendiri dengan bukunya "Pohon Purba Berdahan Pelangi Berdaun Bintang" yang berkisah tentang Adipati Karna.

Pak Yanusa juga menceritakan bagaimana Danarto melakukan tafsir ulang atas karya "Abimanyu Gugur" yang aslinya sangat Hindu menjadi tasawuf dalam karyanya yang berjudul "Nostalgia". Pada akhirnya Pak Yanusa meyakini bahwa nilai-nilai pada Wayang adalah sesuatu yang beliau tetap akan perjuangkan karena memang layak untuk diperjuangkan. Keren banget ini sih

Sementara Pak Sunu Wasono menyatakan bahwa Wayang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan Nusantara. Buktinya banyak dari kita memiliki nama yang bersumber dari tokoh-tokoh pewayangan, seperti Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sahadewa, Kresna, Sinta dan lain sebagainya. Tapi Sengkuni, jarang dipakai sebagai nama orang 🤣🤣🤣.

Selain untuk nama orang, nama-nama tokoh wayang juga digunakan untuk menamai jalan, gunung, merk dagang, makanan, nama ajian, dsb. Semua membuktikan bahwa sebenarnya Wayang itu dekat dengan kehidupan kira sehari-hari.

Berdasarkan cerita wayang yang ada, di tangan kyai dalang yang berbeda bisa ceritanya berbeda. Demikian juga yang terjadi pada karya sastra. Tafsir penyair yang berbeda terhadap cerita yang sama bisa berbeda. Penulis yang berbeda bisa membuat cerita wayang baru yang berbeda dari aslinya dan tetap menarik untuk dibaca.

Nah, ini menarik perhatian saya. Sebagai salah seorang yang menggemari kisah wayang sejak kecil, saya juga menemukan bahwa kisah wayang (terutamanya dari Ramayana dan Mahabharata) di Jawa dan di Bali ada penambahan karakter yang tidak dikenal dalam cerita yang sama di India, walaupun secara keseluruhan & garis besar ceritanya sama. Untuk mudahnya, misalnya tokoh 4 orang punakawan (Semar, Petruk Gareng & Bagong) ini tidak ada di kisah versi India. Hanya ada di Jawa.

Dan lucunya lagi, ketika bermigrasi ke Bali, 4 tokoh punakawan ini berganti nama menjadi Tualen, Merdah, Sangut, Delem dan memiliki personality yang berbeda, dimana 2 orang adalah protagonist dan 2 orang lagi antagonist. Nah lho !?

Ini sejalan dengan penjelasan Pak Sunu tadi, karena sastra yang bersumber dari Wayang itu bisa dirubah oleh penulis yang berbeda-beda.

Nah, pertanyaan saya adalah, sejauh mana kita boleh merubah-rubah karakter atau alur cerita atau point of view karakter wayang yang sudah dikenal umum? Saya merujuk pada pemikiran Sujiwo Tejo dalam Rahvayana yang membuat seisi nusantara terkejut karena berhasil mengajak orang untuk melihat Rahwana dari sisi pandang yang lain.

Pak Yanusa dan Pak Sunu kompak menjawab bahwa sebenarnya tidak ada batasan. Ya sah sah saja jika pengarangnya membuat kisah yang berbeda dari karakter dan persoality tokoh di cerita aslinya. Selain itu membuat cerita yang berbeda versinya akan membantu membuat cerita wayang tetap update dan relevant dengan anak-anak muda. Dan menurut Pak Yanusa, soal perubahan sudut pandang cerita Sujiwa Tejo tentang Rahwana itu sebenarnya sudah dipikulirkan dan didiskusikan bertahun-tahun sebelum dieksekusi. Melalui pemikiran dan proses yang panjang.

Lah, jika wayang ceritanya tetap begitu- begitu saja tanpa dinamika, siapa yang mau menonton? Isinya nasihat saja, ya ditinggal tidur penontonnya. Ya, bener juga sih, bathin saya, sambil menggaruk kepala yang tidak gatal 😁

Tapi yang membuat optimis adalah bahwa dengan bukti adanya banyak versi karya sastra yang berbasis wayang, menunjukan bahwa generasi muda masih mencintai wayang dan kemungkinan besar wayang akan tetap eksis.

Namun mengutip pendapat Pak Yanusa, jika memang suatu saat wayang itu harus mati ya biarkanlah mati. Tetapi sepanjang ia belum mati, mari kita perjuangkan !

Diskusi yang menarik 👍

Comment
You can also reply to this email to leave a comment.

nimadesriandani © 2024.
Manage your email settings or unsubscribe.

WordPress.com and Jetpack Logos

Get the Jetpack app

Subscribe, bookmark, and get real-time notifications - all from one app!

Download Jetpack on Google Play Download Jetpack from the App Store
WordPress.com Logo and Wordmark title=

Automattic, Inc.
60 29th St. #343, San Francisco, CA 94110

at September 27, 2024
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

No comments:

Post a Comment

Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments (Atom)

Renoir and the Art of Love and Joy at the Paris exhibition 2026

… I felt love and joy, not merely by looking at it … but by being immersed in it … ͏     ­͏     ­͏     ­͏     ­͏     ­͏     ­͏     ­͏ ...

  • [New post] Conscious Acts of Kindness
    thealchemistspottery posted: " "I shall pass through this world but once.If therefore, there be any kindness I can sho...
  • Cross Fit for the Mind
    Stimulate the body to calm the mind Cross Fit for the Mind The Newsletter that Changes the Minds of High Performers If overstimulation is th...
  • 52 Ancestors, Week 9: Changing Italian Names
    petrini1 posted: " For Week 7, the theme of genealogist Amy Johnson Crow...

Search This Blog

  • Home

About Me

latestpets
View my complete profile

Report Abuse

Blog Archive

  • April 2026 (5)
  • March 2026 (7)
  • February 2026 (6)
  • January 2026 (12)
  • December 2025 (12)
  • November 2025 (20)
  • October 2025 (15)
  • September 2025 (19)
  • August 2025 (42)
  • July 2025 (29)
  • June 2025 (32)
  • May 2025 (31)
  • April 2025 (22)
  • March 2025 (30)
  • February 2025 (11)
  • January 2025 (17)
  • December 2024 (13)
  • November 2024 (4)
  • October 2024 (5)
  • September 2024 (1383)
  • August 2024 (1489)
  • July 2024 (1575)
  • June 2024 (1527)
  • May 2024 (1649)
  • April 2024 (1628)
  • March 2024 (1601)
  • February 2024 (1547)
  • January 2024 (1517)
  • December 2023 (2086)
  • November 2023 (1872)
  • October 2023 (1162)
  • September 2023 (817)
  • August 2023 (976)
  • July 2023 (1178)
  • June 2023 (1056)
  • May 2023 (1016)
  • April 2023 (956)
  • March 2023 (782)
  • February 2023 (907)
  • January 2023 (1492)
  • December 2022 (1417)
  • November 2022 (961)
  • October 2022 (954)
  • September 2022 (720)
  • August 2022 (754)
  • July 2022 (866)
  • June 2022 (635)
  • May 2022 (622)
  • April 2022 (602)
  • March 2022 (628)
  • February 2022 (539)
  • January 2022 (699)
  • December 2021 (1329)
  • November 2021 (2856)
  • October 2021 (3168)
  • September 2021 (3143)
  • August 2021 (3242)
  • July 2021 (2446)
Powered by Blogger.